Bre Redana, Someone Still Loves You

Bre Redana, Someone Still Loves You

Ceperan.com: Bre, kita sama-sama menggunakan nama pena yang mirip. Tapi jelas, aku terinspirasi pada penguasa Blambangan, kalau sampeyan aku tak tahulah hehe.

Kebetulan, saya sedang mendengarkan “Radio Ga Ga” Queen, ketika seorang rekan di Facebook membagikan tulisan Bre Redana “Inikah Senjakala Kami…” di Kompas Minggu. Pada artikel itu, Bre cerita ihwal penutupan sejumlah media cetak dan kritik terhadap media daring.

Agak lucu. Saya membaca tulisan –dalam istilah Bre sendiri– “wartawan konvensional” di situs daring media tempat dia bekerja, dan saya membacanya sesudah seseorang membagikannya ke Facebook.

Dari kejadian ini saja, saya sudah ingin mengatakan, “Bre, karena teknologi aku jadi tahu dan membaca tulisanmu, lho. Aku membacanya di smartphone sambil dengar Queen. Inilah generasi sekarang. Kami bisa melakukan beberapa hal secara bersamaan dengan baik hahaha.”

Saya nyaris yakin, saat menulis kolom di Kompas Minggu lalu, di depan Bre Redana ada bayangan wartawan-wartawan online kekinian yang masih kinyis-kinyis, trendi, multitasking, buru-buru mengirim berita, pengetahuannya dangkal, dan enggak kritis pada narasumber (lebih doyan belanja dan jalan-jalan). Untuk kelompok itu rupanya dia menulis kolomnya (Ya, sah-sah saja thoo).

Kolom Bre bisa kita setujui jika dan hanya jika dia menulis untuk golongan yang ada di dalam bayangannya itu. Saat dia menyebut “kami” kita hanya bisa menyetujuinya sejauh yang dimaksud adalah wartawan-wartawan harian Kompas seusianya.

Mengapa? ya tentu saja karena banyak “wartawan konvensional” yang kerjanya hanya –seperti tulisan dalam kaos anak-anak detikcom– “Kopi Paste” berita dari media online hahahaha.

Kedua, dengan gaya khas Kompas, Bre mengingatkan para juragan (media online?) tentang nilai-nilai (moral) di atas. Namanya juga nasihat, ya kita terima sajalah dengan baik. Toh, kita hanya bisa menduga karena Bre tak menyebutnya secara langsung.

Tapi begini sajalah, Bre. Realitas sudah menunjukkan, pemisahan “kami” dan “mereka” itu sebenarnya enggak harus ada. Wartawan konvensional dan multitask pun hanya bisa ada sejauh merujuk pada cara kerja. Nenek moyang kita dulu bepergian dengan jalan kaki atau naik kuda, sekarang kita naik mobil atau motor. Kalau anak-anak zaman sekarang wawancara sambil menyodorkan smartphone sebagai perekam, bukan berarti otak mereka lebih dangkal hahaha.

Mengapa “kami” dan “mereka” tak harus ada? Majalah The New Yorker sudah terbit saat Soekarno baru lulus dari Technische Hoge School. Dengan citra “sangat old school” termasuk memiliki Roger Angell, wartawan yang masih menulis di usia 95 tahun, The New Yorker berhasil beradaptasi dengan kemajuan zaman, dan kini memiliki pembaca muda melalui situs mereka. Bukankah Kompas juga bergerak ke arah yang sama? (dan terbukti, puluhan media cetak Kompas yang bersikukuh menjadi “kami” terpaksa ditutup karena rugi).

The New York Times atau generasi baru semacam The Intercept yang didirikan orang tua bernama Glenn Greenwald juga bisa menjadi contoh. Kalau dianggap kejauhan, ya sudah. Di Indonesia ini, kita bisa membaca konten bermutu di media online semacam Katadata. Wartawan mereka serius bekerja dan riset, walau sebagian di antaranya masih kinyis-kinyis dan suka menyusui anak sambil update status dan melihat pergerakan saham.

Bre, akhir kata, seperti kata Freddie Mercury, Someone Still Loves You, baik You dengan arti Kamu maupun media Cetakmu. Kami, para wartawan online ini, juga senang baca koran bermutu di pagi hari. Apalagi kalau Kompas Minggu yang ada tulisan sampeyan hehehe.

Share