#PrayForParis, Mengapa Harus Dikritik?

#prayforparis mendapat banyak kritik. Bagaimana menurut Anda?

#PrayForParis, Mengapa Harus Dikritik?

Ceperan.com: Apa yang salah dari #PrayForParis? Mengapa ribuan orang menyuarakan kritik, lalu mengubah tagar itu menjadi #PrayForTheWorld?

Barangkali, semua orang sepakat, tiap doa kebaikan pasti sangat mulia. Namun, dalam kasus #PrayForParis, kita mendengar anjuran lain yang juga tak kalah mulia.

Jika seseorang berduka atas 100 lebih korban karena serangan teroris di Paris, sudah sewajarnya pula dia berduka untuk hal serupa di Beirut, Suriah, Iran, Irak, Palestina, Afrika dan di seluruh dunia. Sebab, semua korbannya adalah manusia, dan empati atas dasar kemanusiaan sudah semestinya berlaku universal.

Di jejaring sosia Facebok, banyak sekali pertanyaan demikian: Apakah darah orang Barat lebih tinggi derajatnya dari orang Timur, sehingga tingkat kedukaan dan perhatian dunia harus lebih tinggi ketika ada orang Barat mati karena tragedi?

Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Jika memang semua teror harus dikutuk, mengapa, misalnya, Facebook hanya merilis filter foto profil berlogo benderan Prancis, dan tak melakukannya terhadap negara lain yang mengalami serangan teror?

Karena itu, wajar saja jika kebijakan itu dikritik banyak orang, dan beberapa di antara mereka bahkan merilis filter sendiri berlogo bendera negara lain.

Tetapi, terlepas dari isu keadilan semacam itu, kita kembali ke hal yang paling dasar bahwa tak ada yang salah dengan #PrayForParis. Jika Anda hendak berdoa untuk korban teror di negara lain atau bahkan di seluruh dunia, lakukan saja, tanpa harus nyinyir pada mereka yang mendoakan Paris.

Apalagi, jika secara sembrono berkata,” Kemarin waktu Riau kena kabut asap, diam saja. Sekarang sok peduli sama paris!”

Sinisme semacam itu bukan hanya konyol, melainkan juga tak berdasar. Mengutip status Facebook jurnalis senior harian Kompas, Anton Sanjoyo:

” Paris memang tragedi, tapi kami juga tiap hari, tiap hari sekali lagi, memberitakan semua tragedi terkait ISIS di seluruh dunia. Mulai dari timur tengah hingga pesisir Afrika…baca koran makanya, jangan cuma mantengin FB.”

Kembali ke perdebatan doa itu, saya teringat satu fragmen dari film Bruce Almighty yang dibintangi Jim Carrey (berperan sebagai Bruce) dan Morgan Freeman (berperan sebagai Tuhan).

Saat Bruce koma tertabrak truk dan arwahnya sudah di surga bertemu Tuhan, Tuhan meminta dia berdoa. Lalu, berdoalah Bruce, katanya:

“Tuhan, berikanlah makan pada yang kelaparan, dan damai bagi seluruh umat manusia.”

Doa itu sangat indah, dan menyelesaikan semua persoalan umat manusia di dunia. Bruce pun bertanya, “Bagaimana tadi doaku?”

Alih-alih terpukau, Tuhan justru tertawa kecil dan mengatakan:

“Luar biasa” 
“Jika kamu ingin menjadi Miss Amerika.”
“Sekarang, ayolah”
“Apa yang benar-benar kamu pedulikan.”

Mendengar jawaban itu, Bruce terdiam sejenak, lalu menjawab:

“Grace”

Grace, yang diperankan Jennifer Aniston, adalah kekasih Bruce yang sedang minggat karena hubungan keduanya tak harmonis lagi.
“Kamu ingin dia kembali?
“Enggak”
“Aku ingin dia bahagia.”
“Nah,itu baru doa”

Dan Tuhan pun mengabulkan doa Bruce.

Walau adegan itu hanya rekaan, ia relevan dengan #PrayForParis saat ini. Tak perlu sinis pada orang yang berdoa untuk para korban teror itu. Jika Anda lebih memilih mendoakan korban di Beirut, Ankara atau bagi semua korban atau, seperi Bruce, berdoa agar dunia ini damai, lakukan saja, tanpa harus menjadi hakim bagi orang lain.

Saya lebih setuju kritik ditujukan untuk Facebook. Sudah saatnya mereka membuka fitur mengganti foto profil menjadi warna bendera negara tertentu kepada 1 miliar lebih penggunanya. Dengan demikian, keputusan untuk menyuarakan dukungan atas peristiwa tertentu benar-benar ada di tangan pengguna, dan mereka bisa melakukannya kapan pun mereka mau, tanpa ada anjuran dari mana pun.

Share